Petunjuk Hikmah

Latest Post

 A. Kekuatan Kesabaran Dalam Pandangan Islam 
Pengertian Sifat Zuhud Dan Kesabaran- Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa suatu hari Nabi SAW menemukan seorang wanita yang sedang menangis di hadapan sebuah kuburan. Beliau bersabda kepadanya, ''Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.'' Wanita tersebut menjawab,''Pergilah! Jangan ikut campur dalam urusanku, engkau tidak tertimpa seperti apa yang menimpaku.'' 

Pengertian Sifat Zuhud Dan Sabar
Setelah wanita tersebut sadar dan menyesal, ia pergi ke rumah Nabi SAW. Ia menyampaikan penyesalannya dengan berkata, ''Aku tidak mengenalmu.'' Beliau bersabda, ''Hakikat sabar itu akan terlihat pada saat-saat pertama terjadinya malapetaka.''

Dalam kamus-kamus bahasa, kata sabar diartikan sebagai menahan, baik dalam pengertian fisik material, seperti menahan seseorang dalam tahanan, maupun non fisik (immaterial), seperti menahan diri atau jiwa dalam menghadapi sesuatu yang diinginkannya. Dari akar kata shabara diperoleh sekian bentuk kata dengan arti yang beraneka ragam, antara lain berarti menjamin, pemuka masyarakat yang melindungi kaumnya, gunung yang tegar dan kokoh, awan yang berada di atas yang ain dan melindungi yang di bawahnya, batu-batu yang kokoh, tanah yang gersang, sesuatu yang pahit atau menjadi pahit, dan sebagainya.

Dari arti-arti yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa sabar menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat, pahit, yang harus dihadapi dengan penuh tanggung jawab. Dari sini tidak heran jika bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan sabar, sebab di dalamnya terdapat kewajiban ibadah puasa yang esensi pokoknya adalah pengendalian diri hingga berakhir dengan kemenangan.

Seorang yang menghadapi rintangan yang berat, terkadang hati kecilnya membisikkan agar ia behenti (putus asa), meski yang diharapkannya belum tercapai. Dorongan hati kecil itu selanjutnya menjadi keinginan jiwa. Jika keinginan itu ditahan, ditekan, dan tidak diikuti, maka tindakan ini merupakan pengejawantahan dari hakikat sabar yang mendorongnya agar tetap melanjutkan usahanya walaupun harus menghadapi berbagai rintangan yang berat.

Pengertian sabar yang demikian tersirat dalam sabda Rasulullah SAW. Suatu hari kaum muslimin bertemu dengan musuh dalam suatu peperangan, maka Rasulullah SAW bersabda, ''Wahai manusia, janganlah kalian berharap bertemu musuh, mohonlah kepada Allah keselamatan, namun jika kalian bertemu musuh maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya surga itu di bawah tajamnya pedang.'' (HR. Bukhari-Muslim).

Dengan demikian, sabar tidak identik dengan sikap lemah atau menerima apa adanya, namun sabar merupakan perjuangan yang menggambarkan kekuatan jiwa pelakunya sehingga mampu mengalahkan dan mengendalikan keinginan nafsunya. Bahkan sabar di saat ini menjadi kekuatan moral dalam menghadapi berbagai kejahatan, kezaliman, serta teror yang dilakukan oleh mereka yang tidak ingin kejahatan dan kezalimannya terbongkar.

Allah SWT berfirman: ''Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.'' (QS al-Baqarah: 153). 


B. Pengertian Sifat Zuhud 
Merasa cukup (qanaah) terhadap apapun yang kita peroleh memang gampang- gampang susah. Ego diri, kurang bersyukur serta melihat seseorang yang lebih tinggi dan memiliki dari kita adalah penyakit-penyakit yang semestinya harus kita obati. Kendati demikian, tak sedikit pula orang-orang di sekeliling kita yang memilih untuk zuhud meski ia memiliki banyak harta, jabatan yang tinggi dan kekayaan yang tak ada habisnya. Lalu, apa definisi zuhud yang sebenarnya?

Zuhud dalam sesuatu (al-zuhd fi al-sya’i) menurut bahasa artinya berpaling dari sesuatu yang bersifat duniawi karena menganggapnya hina, remeh, dan yang lebih baik adalah tidak membutuhkannya. Di dalam Alquran banyak disebutkan tentang zuhud di dunia, kabar tentang kehinaan dunia, kefanaan dan kemusnahannya yang begitu cepat, perintah memperhatikan kepentingan akhirat, dan kabar tentang kemuliaan dan keabadiannya. Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri seorang hamba, maka Dia menghadirkan di dalam hatinya bukti penguat yang membuatnya bisa membedakan hakikat dunia dan akhirat, lalu dia memprioritaskan mana yang lebih penting.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata zuhud artinya meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat. Sedangkan wara’ ialah meninggalkan galkan apa-apa yang mendatangkan mudharat untuk kepentingan akhirat. Sedangkan menurut Sufyan Ats-Tsaury zuhud di dunia artinya tidak mengumbar harapan tetapi bukan pula memakan makanan yang sudah kering atau mengenakan pakaian yang kurang layak (lusuh).

Sedangkan pengertian zuhud yang paling baik dan menyeluruh menurut Hasan bin Ali bin Abu Thalib, seperti dikutip oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah ialah zuhud di dunia bukan hanya berarti mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta tetapi jika engkau meyakini bahwa apa yang ada di tangan Allah itu lebih baik dari pada apa yang ada di tanganmu, dan jika ada musibah yang menimpamu maka pahala atas musibah itu lebih engkau sukai daripada tidak tertimpa musibah sama sekali.

Definisi terakhir inilah yang dinilai paling baik dan menyeluruh oleh Ibnul Qayyim sebab di dalamnya ada keridhaan seorang hamba terhadap takdir yang meng- hampirinya; baik maupun buruk. Itu artinya, Ibnul Qayyim tidak hanya memberikan pandangan bahwa secara fisik zuhud itu harus miskin dan lusuh, tapi juga lebih dari itu. Hakikat zuhud ialah membuahkan keridhaan terhadap takdir Allah dan Allah pun akhirnya meridhai kita.

Menurut Imam Ahmad zuhud menunjukkan tiga perkara. Pertama, meninggalkan yang haram dan ini merupakan zuhudnya orang-orang awam. Kedua, meninggalkan berlebih-lebihan dalam hal yang halal, dan ini merupakan zuhudnya orang-orang khas atau khusus. Ketiga, meninggalkan kesibukan selain mengingat Allah dan inilah zuhudnya orang-orang yang ma’rifatullah (orang-orang yang memahami betul zat Allah dan kekuasaan-Nya).

Sehubungan dengan keutamaan zuhud, hadits berikut ini menggambarkan tentang anjuran Rasulullah untuk bersikap zuhud. Dari Abul Abbas, Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi ra, ia berkata, seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw lalu bertanya,“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya maka saya akan dicintai Allah dan manusia,” maka Rasulullah bersabda,“Zuhudlah engkau di dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau dalam hal yang dicintai manusia, niscaya manusia mencintaimu,(HR Ibnu Majah).

Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa seutama-utamanya perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah dan manusia ialah zuhud. Rasulullah melalui hadits ini juga menganjurkan kita supaya menahan diri dari memperbanyak harta dunia dan bersikap zuhud. Beliau bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia inilaksanan orang asing atau pengembara,’ dan beliau juga besabda, ‘Cinta kepada dunia menjadi pangkal perbuatan dosa,’ atau dalam hadits lain Rasul juga bersabda, ‘Orang yang zuhud dari kesenangan dunia menjadikan hatinya nyaman di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang yang mencintai dunia hatinya menjadi resah di dunia dan di akhirat.

Menurut Ibn Daqiqil dalam Syarhul Arba’in Nawawiyyah, melalui beberapa hadits tentnag zuhud di atas, bahwa Rasul menasehati (khususnya) salah seorang sahabat yang bertanya di atas dan umumnya untuk para umatnya agar menjauhkan diri dari menginginkan sesuatu yang berlebih-lebihan, yang dimiliki orang lain. Jika seseorang ingin dicintai lalu meninggalkan kecintaanya kepada dunia, mereka tidak akan berebut dan bermusuhan hanya karena mengejar kesenangan dunia yang sifatnya sementara.Rasulullah Para ulama sudah sepakat bahwa zuhud itu merupakan perjalanan hati dari negeri dunia dan menempatkannya di akhirat. Dengan pengertian inilah orang-orang terdahulu menyusun kitab-kitab zuhud seperti Ibnul Mubarak, Imam Ahmad, Waki’, Hanad bin As-Siry dan lain-lainnya.

Perkara-perkara yang berkaitan dengan zuhud ada enam macam, dan seseorang tidak layak mendapat sebutan zuhud kecuali menghindari enam macam yakni harta, wajah, kekuasaan, manusia, nafsu dan hal-hal selain daripada Allah. Namun, menghindari enam macam disini bukan berarti menolak hal milik atau sengaja memiskinkan diri. Kita tahu bahwa Nabi Daud as dan Sulaiman as adalah orang yang paling zuhud pada zamannya tapi dua Nabi Allah ini memiliki harta yang tak terbilang banyaknya, kekuasaan dan juga isteri yang tidak dimiliki orang lain selain mereka. Dan hal-hal yang telah kita ketahui pula bahwa pastilah Rasulullah Saw ialah orang yang paling zuhud tapi beliau dianugerahi sembilan isteri. Para sahabat pun; semisal Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Az-Zubair dan Utsman termasuk orang-orang yang zuhud tetapi mereka memiliki harta-harta yang melimpah ruah.  



Referensi 

Ramadan, Tariq (2007). In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad. Oxford University Press. ISBN 0-19-530880-8. 

Serin, Muhittin (1998). Hattat Aziz Efendi. Istanbul. ISBN 975-7663-03-4. OCLC 51718704. 

ibn Isa, Muhammad (Imam Tirmidhi) (2011). Syama'il Muhammadiyah: KeanggunanMu Ya Rasulullah (Hardcover) (in Arabic with Malay translation). Malaysia: PTS Islamika Sdn. Bhd. p. 388. ISBN 978-967-3-66064-3. 

Kejujuran dan Wira’inya Abu Hanifah
Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota Kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka. Supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

”Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai," tawar imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri.

”Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengembalikannya

”Berapa harganya?” tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”lmam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

“Sayang sekali." perempuan itu tampak kecewa.
”Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”
“Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja."
"Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,” katanya.
"Tidak apa-apa, terima kasih,” sahut lmam Hanafi tetap tersenyum dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka serinS menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali. lmam Hanafi lalu menghampirinya.

“Silakan, baju itu bahannya halus sekaliHarganya pun tak begitu mahal."
“Memang, saya pun sangat menyukainya.” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. ”Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini-orang miskin,” katanya lagi.
Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, saya akan menghadiahkannya untuk ibu,” kata Imam Hanafi.
“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”
“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.” Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.
"Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu, Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain Vang ada cacatnya itu.

“Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja," kata Imam Hanafi. SahabatnYa mengangguk. Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.
Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

"Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang," kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi. “Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh."sahabatnya sangat menyesal.
Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yangmembeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

”Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya,“ ucap Imam Hanafi.
Sampai larut malam, imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

'Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,” ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya. Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh.
“Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya? ” tanyanya.
"Tidak, Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.
Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya. Subhanallah...

Virus Merah Jambu |Karya Muhammad IkbalVirus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis.Ini adalah definisi hakiki virus menurut ulama biologi dan bidang ilmu yang mempelajarinya.Virus itu bersifat parasit, setiap parasit itu merugikan.kenapa? Karena virus menyerang dan menggerogoti pengidapnya , dia masuk melalui celah celah tubuh , mengintai organ tertentu dan menjangkitinya, hingga penderitanya lemah tak berdaya dan akhirnya meninggal.

Virus , yang statusnya diperdebatkan apakah dia makhluk atau bukan. namun dalam kaca mata tauhid, apa saja selain dari Allah adalah makhluk, jadi virus adalah makhluk.

Tahun -tahun kemarin di Indonesia pernah megahnya virus hewan yaitu virus flu burung(H5N1) dan flu babi(H1N1) yang banyak menyerang dan menewaskan masyarakat Indonesia.

Bahaya dari virus di atas tak sebanding dengan makhluk tuhan yang bernama virus merah jambu, kenapa merah jambu? Ya karena dia warna pink.Warna pink itu melambangkan warna cinta. Didalam dunia kartun tokoh wanita yang berjumpa dengan seorang pria yang ia sukai ekspresi wajahnya akan dilukiskan warna pink merona dipipinya. Inilah dia virus yang menyerang anggota yang paling urgen di dalam tubuh manusia yaitu hati.

Sekalipun dia virus merah jambu, tetap saja dia berbahaya. Bahkan lebih berbahaya dari virus yang sudah ada sebelumnya.

Seberapa bahayakah virus merah jambu ini?
Virus yang menjangkit bagian hati ini, sanggup meluluh lantakkan fisik dan mental manusia, tak mengenal usia, tua muda diembatnya.Virus yang mampu menguras finansial, mengkempiskan dompet, merobek saku celana sohibnya dalam hitungan menit bahkan detik.

Dampak terbesar yang ditimbulkannya adalah zina, tidak main-main dengan azab yang diberikan kepada penzina, di dunia saja azabnya sangat pedih. Bayangkan saja ,penzina yang belum pernah berkahwin harus merasakan pedihnya dicambuk seratus kali dan bagi yang sudah berkahwin harus merasakan nikmatnya dirajam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah memperingatkan kita untuk menjauhi zina , sebagaimana yang telah ditegaskan dalam surat Al-isra ayat 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. [al-Isrâ/17:32]

Virus inilah yang menyerang muda mudi untuk melakukan hubungan terlarang yang disebut dengan pacaran. Sedangkan pacaran itu sendiri adalah wasilah atau perantaraan untuk mencapai zina. Ada sekelompok manusia jahil yang menolak kalau pacaran itu adalah perantara zina karena mereka tidak melakukan hubungan badan, apa salahnya pacaran asalkan tidak gitu-gituan!

Apakah mereka itu lupa atau tidak tahu?
Zina itukan ada banyak jenisnya. Ada zina mata , zina telinga , zina hidung .Intinya setiap anggota tubuh yang berpotensi bangkitnya syahwat sudah tergolong zina anggota tubuh.

Bagaimana mengobati virus ini?
Obatnya adalah membatasi pergaulan anak,dalam artian membatasi hubungan yang berlainan jenis, biarkan yang laki bergaul dengan sesama lelaki dan yang wanita sesama wanita. Metode pengobatan ini sudah terbukti ampuh mengatasi penyebaran virus merah jambu seperti yang  diterapkan oleh pesantren.

Namun bagi para pria yang sudah mencapai tingkat berhajat untuk nikah tetapi tidak ada modal , maka sangat dianjurkan untuk sering sering puasa, agar dapat menekan nafsunya. Dan jangan lupa berdoa lima kali sehari untuk dipermudahkan rizki dan jodohnya.Amin.

Sangat dan bahkan wajib bagi kita sebelum memulai perbuatan atau pekerjaan untuk melihat dan dampak negatif yang akan terjadi nantinya, seperti zina. Zina itu sangat banyak efeknya:

Dosa dengan sang rabbi, dosa dengan orang tua, dosa dengan guru, dosa dengan orang sekampung karena sudah bikin malu.

Melecehkan harkat dan martabat wanita yang telah dibela dan diangkat oleh rasul dari kehinannya di masa jahiliyah.

Berdosa dengan istri karena telah merobek dan mencabik hatinya, istri mana yang rela suaminya berbuat zina! Tetapi beda dengan poligami ya.

Wahai muda mudi inilah virus yang paling mematikan diantara virus lainnya, bentengilah jiwa kalian dengan ilmu.Hantam dan jangan biarkan dia merusak dan menghancurkan masa depanmu. Jangan biarkan dia merusak citramu di hadapan tuhanmu.

Ya Allah jauhkanlah kami dan generasi kami  dari virus yang merusak status ta’at kami ya Allah.Palingkanlah pandangan kami dari pandangan yang membangkit syahwat kami ya Allah dan peliharalah kami dari azab nerakaMu ya Allah. Amin.

Muhammad Ikbal
Santri Ma’had Darul Falah

Kisah Nabi Ibrahim dan Menantunya
Dikisahkan Nabi lbrahim AS berkunjung ke menantunya. Pada waktu itu, anaknya, Nabi Ismail AS tidak ada di rumah. Dan ternyata sang mantu belum pernah berjumpa dengan sang mertua. 

Nabi Ibrahim : Siapakah kamu? 
Menantu : Aku isteri Ismail. 
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail? 
Menantu : Dia pergi berburu. 
Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga? 
Menantu : (sambil mengeluh) Oh, kami semua dalam penderitaan dan tak bahagia
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu sudah kembali, tolong sampaikan salamku padanya. Dan katakan padanya, 'tukar tiang pintu rumahnya' (kiasan untuk menceraikan isterinya). _ 
Menantu : Ya, baiklah. 

Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah  singgah di singgah di rumah mereka.

Nabi ismail : Apa saja yang ditanya oleh orang tua itu?
isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita. 
Nabi lsmaii : Apa jawabanmu? 
isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah.Hidup kita ini selalu dalam penderitaan dan tak bahagia.
Nabi ismail : Apa dia ada pesan? isteri : Ada Dia titip salam padamu dan dia berpesan agar engkau menukarkan tiang pintu rumahmu. 
Nabi ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah (bercerai). Maka, sekarang kembalilah kamu kepada keluargamu. 

ismail pun menceraikan isterinya yang suka mengeiuh, tak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah SWT. Malah dia menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar. 
Kemudian Nabi ismail AS menikah lagi. 
Pada suatu ketika, Nabi lbrahim AS datang lagi ke Makkah dengan tujuan kembali menguniUngi anak dan menantunya. Dan bisa ditebak, terjadilah pertemuan antara mertua dan menantu 'barunya' itu.

Nabi lbrahim : Dimana suamimu? .
Menantu : Dia tidak ada di rumah. Dia sedang memburu. 
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan? 
Menantu : Alhamdulillah, kami semua dalam keadaan sehat sejahtera, tidak kurang suatu apa. 
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu. 
Menantu: Silakan duduk sebentar. Bolehkah saya hidangkan sedikit makanan. ' 
Nabi Ibrahim: Apa pula yang ingin kamu hidangkan? 
Menantu: Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu 
Nabi Ibrahim . (Berdoa) Ya Allah!-Ya Tuhanku! Berkatilah mereka dalam makan minum mereka. (Berdasarkan “ peristiwa ini, Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim). 
Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang, sampaikan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk meng-kekal-kan isteri Nabi lsmail). Ketika Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya siapa datang yang datang mencarinya.
Nabi Ismail : Adakah yang datang ketika aku tiada di rumah? 
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu. 
Nabi Ismail :Apa katanya? 
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita. 
Nabi Ismail : Apa jawabanmu? 
Isteri : Aku bilang padanya bahwa hidup kita dalam keadaan baik, tidak kurang suatu apa. Aku ajakjuga dia makan dan minum. 
Nabi Ismail : Apa dia ada pesan? 
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu menetapkan tiang pintu rumahmu. Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku. Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku kekaikan. 
Isteri : Alhamdulillah, syukron. 

*** 

Rasulullah bersabda : ”Sampaikanlah kepada siapapun yang engkau temui dari kaum wanita, bahwa ketaatan kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang dapat
melakukan demikian.” (HR. Al-Bazzar dan AthThabrani)


Arti Sebuah Harapan | Oase Imam Buya Yahya
Alangkah banyaknya pekerjaan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesuatu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah tempat pandang dan penilaian Allah SWT.


Kemulyaan seseorang tergantung pada apa yang ada dikandung hatinya. Penarik becak, penjual bakso, seorang Ustadz, pejabat semua sama-sama jelek di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya adalah rencana busuk, niat yang jelek dan tujuan yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya mereka sama-sama mulia di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya maksud yang mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa : “ Karena niat yang terkandung di hatilah ada beberapa pekerjaan yang terlihat sebagai pekerjaan dunia, akan tetapi dinilai oleh Allah SWT sebagai amal akhirat. Ada amal yang terlihat sebagai amal akhirat, akan tetapi dinilai Allah SWT sebagai amal dunia yang buahnya tidak bisa di petik di akhirat. “

Yang lagi shalat, berdakwah dan berinfaq mendapatkan nilai maksiat jika semua itu dilakukan tidak disertai niat baik yang tulus dalam mengabdi kepada Allah SWT. Yang hanya berurusan dengan pasar, sawah dan perusahaan akan mendapatkan nilai jihad dan kemuliaan karena ketulusan hatinya dalam merindu ridho Allah SWT di penghujung harapannya.

Marilah kita insyafi makna ini agar aktivitas kita ada nilainya di hadapan Allah. Sebelum kita pergi melaksanakan aktivitas marilah menghadap kepada Allah SWT dengan air wudhu lalu sholat hajad dua roka’at, kemudia memohon kepada Allah SWT agar mempermudah urusan kita, lalu kita tutup dengan merenungi apa yang ada di hati kita. Sudahkah kita berniat yang baik dan rindu ridho Allah SWT dalam aktivitas ini? Kemudian, senantiasa sertakan makna ini sepanjang kita beraktivitas. Jika kita benar-benar serius dan tulus dalam merenungi ini sungguh sepanjang kita beraktivitas akan terjauh dari pelanggaran kepada Allah SWT. Sebab yang menuju Allah SWT akan senantiasa mengambil cara yang di ridhoi Allah SWT agar sampai kepada tujuan. Dan tujuan sebaik apapun jika cara yang kita ambil untuk sampai ke tujuan tidak baik, itu pertanda bahwa niat dan tujuan kita bukanlah yang baik. Dan bagaimanapun juga kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu ridho Allah SWT.
Wallahu a’lam bissawab.

Karomah Habib Munzir Al Musawwa
Pernah seorang pemabuk dan preman yang menjadi biang kriminal bahkan konon sering menyiksa dan membunuh, orang tidak melihat ia memiliki sifat baik sedikitpun. Namun ketika saya diadukan tentangnya, pasalnya adalah ketika pemuda sekitar wilayah tersebut ingin mengadakan majelis, namun takut pada orang itu. Mereka akan didamprat dan diteror oleh si jahat itu. Ia adalah kepala kejahatan yang konon kebal dan penuh ilmu jahat. Saya datangi kerumahnya, saya ucapkan salam dan ia tidak menjawab, ia hanya mendelik dengan bengis sambil melihat Saya dari atas kebawah, seraya berkata, "Mau apa?” Saya mengulurkan tangan dan ia mengulurkan tangannya dan saya mencium tangannya, lalu saya pandangi wajahnya dengan lembut dan penuh keramahan.

Saya berkata dengan suara rendah dan lembut, “Saya mau mewakili pemuda sini, untuk mohon restu dan izin pada Bapak, agar mereka diizinkan membuat majelis di musholla dekat sini.” Ia terdiam... roboh terduduk di kursinya dan menunduk. Ia menutup kedua matanya. Saat ia mengangkat kepalanya saya tersentak, saya kira ia akan menghardik dan mengusir, ternyata Wajahnya merah dan matanya sudah penuh airmata yang banyak. Ia tersedu sedu berkata, "Seumur hidup saya belum pernah ada kyai datang kerumah saya... Lalu kini... Pak Ustadz datang kerumah saya, mencium tangan saya… tangan ini belum pernah dicium siapapun. Bahkan anak-anak sayapun jijik pada saya dan tak pernah mencium tangan saya, semua tamu saya adalah penjahat, mengadukan musuhnya untuk dibantai, menghamburkan uangnya pada saya agar saya mau berbuat jahat lagi dan lagi.... Kini datang tamu minta izin pengajian pada saya. Saya ini bajingan, kenapa minta izin pengajian suci pada bajingan seperti saya.” la menciumi tangan dan kaki saya sambil menangis, ia bertobat, ia sholat, dan meninggalkan minuman keras dan criminal. 

Konon dia ini sering mabuk, jika sudah mabuk maka tak ada di kampung itu yang berani keluar rumah. Namun kini terbalik, ia menjadi pengaman di sana, tak ada orang mabuk berani keluar rumah jika ada dia. Dia menjadi kordinator musholla, ia mengatur teman temannya para preman untuk membersihkan musholla, dipaksanya para anak buahnya harus hadir majelis, dan demikianlah keadaanya. la bertempat di Legoa, Priok, tempat yang sangat rawan dengan kriminal. Orang di wilayah itu jika saya datang mereka berbisik bisik, “Jagoan selatan lagi ketemu jagoan utara!” Mereka kira saya mengalahkannya dengan ilmu, padahal hanya kelembutan Muhammad saw yang saya gunakan. Hingga kini jika saya jumpa dengan beliau ia pasti menangis memeluk saya. 

Saya pernah bercanda dengan meneleponnya, saya katakan, "Tolong saya, tolong datang ke sini, saya dalam keadaan genting!” Ia datang dengan Jaket Jeans, celana jeans, dan dari wajahnya sudah siap tempur. ia berkata, “Saya siap mati Habib, siapapun yang berani mengganggu habib sudah bukan urusan habib lagi, biar saya yang urus dan saya janji akan memotong kupingnya dan membawakannya pada habib!” saya berkata ”Naik saja ke mobil Pak!" Ia pun naik, saya masul; ke majelis dan mengajaknya hadir, ia berkata “Mana orangnya Habib?” Saya katakana, ”tidak... (saya tertawa) cuma mau mengajak bapak ke majelis saya, kangen aja.” Ia pun lemas dan tertunduk malu. Saya menganggapnya ayah angkat saya hingga kini. Kejadian lain adalah ketika paman saya mengadakan perjalanan dari Lampung ke Jakarta. Ia bersama anak-anaknya.

Ketika masuk pelabuhan Bakauhuni Lampung, ia melihat seorang berwajah bengis dan menakutkan sedang duduk di pintu pelabuhan. Paman saya bersalam padanya dengan lembut. Si garang itu tidak menjawab dan wajahnya tanpa 'ekspresi sedikitpun dan acuh saja. Maka lalu paman saya membeli tiket kapal yang ternyata dipalsu oleh calo. Ia terjebak dalam penipuan. Maka ketika paman saya kebingungan dan mulai dikerubuti orang yang menonton, maka si garang itu muncul. Semua orang mundur melihat ia datang, lalu ia berkata, ”Ada apa Pak?” Paman saya bercerita akan penipu itu. Si Garang berkata, ”Bagaimana cirri-ciri orang itu?” Paman saya menceritakannya.... Si Garang pergi beberapa menit dan kembali sambil menyeret orang itu yang sudah babak belur dihajarnya. ia berkata kepada penipu itu, "Kamu sudah menipu keluarga saya! Ini keluarga saya!" sambil menunjuk pada paman saya. Rupanya si garang ini preman penguasa pelabuhan itu. Bagaimana ia bisa mengakui paman saya sebagai saudaranya? kenalpun tidak, cuma hanya karena paman saya mengucap salam padanya dengan ramah. Walau wajahnya tidak berekspresi saat itu, tapi ternyata hatinya hancur, ia malu dan haru. Mungkin seumur hidupnya belum pernah ada orang mengucap salam padanya dengan hormat. Inilah beberapa contoh. 

Contoh lainnya adalah ketika saya di suatu masjid, yang memang sudah kebiasaan saya jika jumpa siapapun yang lebih tua jika menjabat tangan saya maka saya mencium tangannya, apakah ia ulama atau bukan. Selesai acara maka terdengar kabar, seorang muadzin masjid itu ternyata adalah pencuri kotak amal masjid. la bertobat dan mengakui dosanya kepada sesepuh masjid. la menangis dan berkata, “Tangan saya kotor dengan dosa, hati saya hancur ketika tangan saya ini dicium oleh habib itu. Saya menyesal, saya haru, saya terpukul, tangan ini selalu mencuri, tidak pantas dicium oleh seorang tokoh agama." ia pun bertobat.

Di lain kesempatan ketika saya di suatu negeri timur tengah, saya lihat di bandara para tentara . berwajah bengis dengan senjata laras panjang di pundaknya menjaga di sana sini. Saya bersalam pada seorang yang tampak bengis sekali. Saya menunduk hormat dan senyum lembut. Ia tak menggubrisnya, hanya mendelik dan pergi. Tak lama saya terkena sedikit masalah di pintu imigrasi, hanya pertanyaan pertanyaan iseng yang sering dilancarkan petugas imigrasi di pelbagai Negara. Maka tiba-tiba ada yang membentak di belakang saya. Ia memerintahkan agar orang itu segera melewatkan saya. Ketika saya berpaling ternyata tentara tadi. Ia menarik baju saya untuk segera lewat pintu detektor pengaman bersamanya dan menghardik petugas pengaman untuk minggir seraya berkata dengan bahasa arab, “Silahkan Tuan!” Saya mengucap terimakasih, ia hanya mengangguk dan pergi.

Subhanallah.. .. Demikian indahnya akhlak. demikian senjata yang lebih tajam dari pedang dan lebih mengalahkan dari peluru… ia mengalahkan musuh dan membuat musuh berbalik menjadi penolong dan pembela… Jika mereka yang gelap dan penjahat sedemikian mudahnya lebur, apalagi orang yang berilmu saudaraku. Demikian saudaraku yang ku muliakan,semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dengan sega|a cita-cita. Wallahu a'lam

Tangisan Rasul Mengguncangkan Arsy


Dikisahkan, bahwasanya diwaktu Rasulullah SAW sedang asyik bertawaf di ka’bah, beliau mendengarkan seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Rasulullah SAW menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah SAW yang berada di belakangannya mengikiuti zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti di olok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: “wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olok kanku, karena aku ini adalah orang Arab Badwi? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.” Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum, lalu bertanya: “tidakkah engkau megenal Nabimu wahai orang Arab?” ‘Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana engkau beriman kepadanya?” “saya percaya dengan mantap atas keNabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya,” sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula. Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya” jawab Nabi SAW. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah SAW. Melihat hal itu, Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: “wahai orang Arab! Janganlah berbuat serupa itu.

Perbuatan sepertl itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahullah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi deml membawa berita. Ketika itulah, Malaikat libril a.s. turun membawa berita darl langit dla berkata: ”Ya Muhammad! Tuhan ASv Salam mengucaplcan salam kepadamu dan bersabda: ”Katakanlah kepada orang Arab itu, Agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besarl' Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. 

Maka orang Arab itu pula berkata: “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya. 'Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya/ jawab orang itu. 'Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya !' Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah Saw.. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu; air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata: “Ya Muhammadi Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga Ia bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan Ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya. Sholallahu alaihi sayyidinaa Muhammad ..........

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget